Mengapa Ada Santri yang Sinis Saat Dinasehati dengan Ayat Al-Qur’an?
Pernah menemukan santri yang malah sinis ketika dinasihati menggunakan ayat Al-Qur’an atau hadis Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam?
Misalnya, ketika seorang santri berperilaku buruk, kita mencoba memotivasinya dengan berkata, “Allah tahu apa yang terbaik untukmu, meskipun kamu belum memahaminya.”
Namun, alih-alih tersentuh, santri justru merespons dengan sinis.
Sebagai pendidik, kita mungkin kesal dan menganggap santri tersebut keras hati atau sulit dinasihati. Padahal, bisa jadi masalahnya bukan sesederhana itu.
Niat kita mungkin baik, tetapi cara kita menyampaikan nasihat belum tentu tepat sasaran.
Coba kita lihat lebih dekat. Ada santri yang masuk pesantren karena orang tuanya berharap pesantrenlah yang akan mendidiknya. Padahal, sejak kecil, ia mungkin tidak pernah mendapatkan contoh nyata tentang bagaimana Islam dijalani dengan penuh kasih sayang di rumah.
Ada juga yang sudah dikenalkan dengan agama, tetapi melalui pendekatan yang keras, penuh ancaman, atau mempermalukan anak.
Akibatnya, ketika mendengar ayat, hadis, dan nasihat agama, ia tidak memiliki pengalaman positif yang bisa menghubungkan semua itu dengan ketenangan, kasih sayang, dan rasa aman.
Anak mengenal Allah bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui hubungan
Dalam pembahasan tentang God Image (citra tentang Allah), riset yang dikaitkan dengan Yaqeen Institute for Islamic Research mengangkat gagasan bahwa pengalaman anak dalam menjalin hubungan dengan orang tua dapat memengaruhi bagaimana ia membayangkan hubungannya dengan Allah.
Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter, minim kehangatan, dan penuh ancaman bisa saja membayangkan Allah seperti polisi kosmik (cosmic cop): sosok yang terasa jauh, dingin, dan hanya menunggu kesalahan untuk menghukum.
Ketika citra seperti ini terbentuk, nasihat agama bisa memunculkan penolakan, bahkan ketika isi nasihatnya benar.
Jadi, persoalannya belum tentu karena santri tidak memahami ayat yang disampaikan. Bisa jadi, ia belum memiliki rasa percaya terhadap sosok yang menyampaikan pesan itu atau belum merasakan nilai-nilai Islam sebagai sesuatu yang membawa kebaikan.
Kepatuhan karena takut belum tentu melahirkan kesadaran
Santri yang selalu ditekan agar patuh mungkin terlihat baik di hadapan pendidik. Namun, apakah kebaikan itu tumbuh dari kesadaran atau sekadar rasa takut?
Ia mungkin salat ketika diawasi, mengaji agar dipuji, atau menaati aturan karena takut dihukum. Ketika pengawasan hilang, perilakunya bisa berubah.
Karena itu, kepatuhan yang terlihat belum tentu mencerminkan kesadaran yang tumbuh di dalam hati.
Tugas pendidik bukan hanya membuat santri mengikuti aturan, tetapi juga membantu mereka memahami, mencintai, dan menjalankan nilai-nilai Islam dengan kesadaran.
Lalu, apa yang harus dilakukan pendidik pesantren?
Bukan berarti kita harus berhenti menasihati dengan ayat dan hadis. Keduanya tetap menjadi petunjuk utama bagi seorang muslim.
Namun, kita perlu memperhatikan bagaimana nasihat itu disampaikan dan hubungan seperti apa yang sudah kita bangun dengan santri.
Terkadang, sebelum menasihati dengan ayat, kita perlu lebih dahulu membangun ruang yang hangat dan aman bagi mereka.
Ruang itu tidak harus berupa sesi konseling. Ia bisa hadir dalam keseharian pesantren: bagaimana kita menegur santri yang salah, mendengarkan keluhannya, menjawab pertanyaannya, dan memperlakukannya ketika ia sedang mengalami kesulitan.
Di sinilah pendekatan disiplin positif menjadi penting. Santri tetap mendapatkan konsekuensi ketika melanggar aturan, tetapi konsekuensi itu diberikan untuk mendidik, bukan untuk merendahkan martabatnya.
Santri perlu belajar bahwa ketika seorang ustaz menegurnya, itu bukan berarti ia dibenci. Ketika ia melakukan kesalahan, ia tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dari pengalaman-pengalaman kecil seperti inilah, santri bisa mulai membangun pemahaman bahwa mendidik, menegur, dan mengarahkan tidak harus dilakukan dengan kekerasan.
Bangun kepercayaan sebelum memberikan nasihat
Jangan menunggu sampai santri bermasalah, lalu baru berusaha mendekatinya. Jangan pula baru membangun hubungan ketika kita ingin ia menerima nasihat.
Kepercayaan perlu dibangun jauh sebelum momen itu tiba, melalui ribuan interaksi kecil yang terjadi setiap hari.
Sebab, ketika fondasi kepercayaan sudah terbentuk, nasihat akan lebih mudah diterima. Sebaliknya, ketika hubungan dipenuhi ketakutan dan ketidakpercayaan, kata-kata yang benar sekalipun bisa terasa seperti serangan.
Tentu saja, hidayah tetap milik Allah Azzal wajalla. Tidak ada pendekatan pendidikan yang menjamin seseorang pasti menerima kebenaran. Namun, kita tetap berkewajiban menempuh cara yang bijaksana dalam mendidik mereka.
Tugas pendidik bukan hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga mendidik dengan cara yang membantu santri belajar menerima dan mengamalkan kebenaran tersebut.
Jangan sampai kita terlalu sibuk memperbaiki perilaku santri, tetapi lupa membangun hubungan yang membuat mereka merasa aman untuk belajar, berubah, dan memperbaiki diri.